Photobucket

Thursday, November 4, 2010

ILMU DUNIA @ ILMU AKHIRAT??


Ilmu dalam Al Qur’an, Hadits dan Para Ulama
Ilmu merupakan sebuah hal yang sangat berharga bagi setiap orang. Demikian juga halnya dalam agama yang mulia ini ilmu memiliki kedudukan yang amat tinggi, dalam Al Qur’an Allah Subhanahu wa Ta’ala,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat”.
(QS : Al Mujadalah [58] :11).
Demikian juga dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,
إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirhammelainkan mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang besar”[1].
Demikian juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi was sallam,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan padanya seluruh[2] kebaikan maka Allah akan jadikan ia faham terhadap urusan agamanya[3].
Demikian juga di mata para ulama, ilmu memiliki kedudukan yang istimewa diantaranya adalah bagi syaikhnya para ahli hadits, Imam Bukhoriy rohimahullah, hal ini terbukti karena beliau rohimahullah membuat satu kitab dalam kitab shohihnya yang berjudul Kitabul ‘Ilmi yang beliau letakkan setelah Kitabul Iman[4]. Demikian juga ulama yang lainnya. Akan tetapi apakah kita telah tahu apakah ilmu yang Allah ‘Azza wa Jalla dan NabiNya shollallahu ‘alaihi was sallamkatakan ??!! Oleh karena itu marilah kita pelajari barang sejenak. Karena terkadang orang sering salah paham menggunakan dalil-dalil berupa Al Qur’an dan Sunnah dalam masalah keutamaan ilmu.
Pengertian Ilmu dalam Dalil-Dalil Al Qur’an dan Sunnah
Kebanyakan orang terutama mereka yang hidup di lingkungan akademik perkuliahan ilmu umum memiliki anggapan bahwa ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala puji pemiliknya dengan Allah ‘azza wa jalla naikkan derajat mereka beberapa derajat termasuk di dalamnya adalah ilmu-ilmu umum. Padahal tidakah demikian, ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala maksudkan adalah ilmu agama, ilmu syar’i. Hal ini berdalilkan kejadian yang terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,
مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ « لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ ». قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ « مَا لِنَخْلِكُمْ ». قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ « أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ ».
Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam melalui beberapa orang yang sedang melakukan penyerbukan kurma, beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kalaulah kalian tidak melakukan hal yang demikian maka hasilnya akan baik”. (Para sahabat mengikuti perkataan beliau) kemudian hasil kurmnya jelek. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam melalui mereka lagi dan berktanya, “Mana kurma kalian?” mereka mengatakan, “Engkau katakan demikian dan demikian (agar tidak menyerbukan kurma)”[5]. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kalian lebih paham berilmu tentang urusan dunia kalian[6].
Ahli Fiqih Zaman ini, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaiminrohimahullah mengatakan barkaitan dengan hadits di atas, “Seandainya ilmu semisal ilmu di atas yang Allah ‘azza wa jalla memuji orangnya maka sudah pastilah Allah jadikan beliau sebagai orang yang paling tahu tentang ilmu tersebut karena orang yang paling banyak Allah puji ilmu dan amalnya adalah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam”[7]. Akan tetapi kita lihat bersama dalam hadits di atas tegas menunjukkan bahwa beliau bukanlah orang yang mengetahui ilmu masalah penyerbukan kurma di atas (baca : ilmu dunia) sehingga jelaslah ilmu yang Allah janjikan akan ditinggikan derajat pemiliknya adalah ilmu syar’i/ilmu agama islam dan bukan sama sekali ilmu dunia.
Kedudukan Ilmu Dunia
Ilmu dunia adalah suatu yang nyata adanya di hidup dan kehidupan kita, hal ini merupakan suatu hal yang diperlukan untuk menjalani hidup karena manusia membutuhkan dunia dan mereka hidup di dunia. Oleh karena itulah ilmu dunia merupakan suatu hal yang tidak kita ingkari, terlebih lagi karena islam adalah agama yang nyata dan tidak mengingkari adanya realita. Namun sekali lagi kami katakan bahwa kami tidaklah meniadakan manfaat/faidah dari ilmu dunia sama sekali namun faidah/manfaat yang ada pada ilmu dunia adalah faidah/manfaat yang bersifat terbatasBatasan tersebut adalah jika ilmu tersebut digunakan untuk menolong agama Allah dan membantu hamba-hambaNya untuk melaksanakan keta’atan kepada Allah maka ilmu tersebut adalah ilmu yang memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan. Bahkan terkadang dalam waktu tertentu hukum menuntutnya bisa menjadi wajib jika hal itu masuk dalam apa yang Allah firmankan,
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآَخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ
“Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu (yaitu orang-orang kafir Mekah[8])dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya (semisal orang munafik, yahudi[9]) sedang Allah mengetahuinya”.
(QS : Al Anfal [8] :60).[10]
Syaikh Abdur Rohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullahmengatakan, ”Yang dimaksud dengan (مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ) adalah semua hal yang kalian mampu bail itu berupa kekuatan yang bersifat akal pikiran (non fisik pent.), fisik serta persenjataan dan lain sebagainya berupa hal-hal yang dapat membantu untuk memerangi mereka. Maka termasuk dalam hal tersebut bidang perindustrian peralatan perang berupa artileri, senapan mesin, peluru, pesawat, armada darat dan laut, benteng pertahanan, pesawat perang. Demikian juga strategi yang membuat kaum muslimin terdepan dan mampu mencegah keburukan yang diberikan lawan-lawan mereka, mempelajari cara-cara menembak, meningkatkan keberanian dan semangat dan perencanaan”[11]. Dengan demikian bukanlah seluruh ilmu non agama termasuk dalam ayat ini melainkan ilmu-ilmu atau penemuan berupa teknologi yang membuat musuh-musuh islam takut, Allahu A’lam.
Adapun ilmu yang selain ilmu agama dan ilmu non agama dalam keadaan demikian maka hukumnya tergantung tujuannya, apabila tujuannya/niatnya untuk kebaikan maka baik akan tetapi jika tujuannya keburukan maka buruk. Demikian juga jika tujuannya semata-mata tujuan rendahan semisal untuk meraih dunia semata maka rendah juga, karena ia merupakan perkara yang hukum asalnya mubah.
Kesimpulan
Ilmu yang Allah ‘azza wa jalla puji dalam Al Qur’an dan melalui lisan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam mutlak kabaikan bagi pelakunya adalah ilmu agama. Allahu a’lam bish showab.

Monday, November 1, 2010

BANJIR!!! BAH!!!

Skarang dah msim bnjir kat kdah..aku bqu ja tipon fmily aku kat kg...erm, ujan trun 2. 3 aqi ni x hnti2.. nmpak gayanya umah aku akn msuk aiq la...ujan rhmat n ujian drpd Allah tuk mmbri prngatan tuk smua hmba2Nya spya brsyukur n mningkatkan keimanan kpdNya..so, ni la suasana bnjir kat umah aku..;-)



















SYARIKAT VS PERJUANGAN????

Saya yakin, rata-rata diantara kita pernah mendengar atau terbaca ungkapan berikut :

"Perjuangan yang haq, tetapi tidak bersistem, akan ditewaskan oleh perjuangan yang bathil yang mempunyai sistem"

Jika kita sorot sejenak dalam kehidupan sehari-hari. Kita boleh lihat, perjuangan yang bertemakan maksiat dan mungkar sering mendapat tempat di tengah masyarakat. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering melihat gaya hidup yang bertentangan syariat mendapat tempat di hati masyarakat berbanding gaya hidup muslim. Mengapakah terjadi demikian ?





Jawapannya, ayuh kita intai sejenak satu contoh. Ayoh kita kaji struktur organisasi sesebuah syarikat. Kemudian kita cuba bandingkan dengan realiti yang ada. Semoga kita mampu menimba pengajaran dan iktibar darinya.

Secara amnya, dalam struktur sesebuah organisasi syarikat terdapat 3 lapisan struktur dalam organisasinya. Pertama Jemaah Lembaga Pengarah. Kedua Team Pengurusan. Ketiga Group-group Teknokrat (kakitangan).

Jemaah atau Lembaga Pengarah merupakan lapisan struktur yang membuat dasar syarikat. Segala polisi, target jualan dan keuntungan ditetapkan oleh mereka.

Team Pengurusan pula membuat perancangan dan strategi, untuk mencapai target syarikat di samping mengekalkan polisi dan mempertingkatkan mutu perkhidmatan. Mereka akan develop atau membangunkan metode atau uslub ke arah mencapai matlamat syarikat. Metode/uslub ini akan dianalisa dari masa ke semasa, sejauhmana keberkesanannya.

Group-group teknokrat atau kakitangan pula bertanggungjawab melaksanakan metode/uslub yang telah digubal oleh Team Pengurusan. Sejauhmana mereka cekap memahami, menggunakan kreativiti mereka untuk melaksanakan uslub tersebut, menentukan kecepatan, ketepatan dan juga kadar kejayaan.

Mari kita lihat di dalam perjuangan Islam. Dalam perjuangan ini, kita suda punya Dasar dan untuk mewujudkan Lembaga Jemaah tidak perlu. Allah SWT telah pun membuat dasar. Dasar-dasar tersebut terkandung di dalam AL Quran dan disampaikan juga secara terperinci oleh sunnah Rasulullah SAW. Bukankah kerja perjuangan kita sudah mudah ? Kita tidak perlu memerah otak demi mencipta sesuatu dasar dan matlamat, kerana apa yang telah dihidangkan oleh Allah melalui firman Nya di dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, merupakan suatu dasar yang menjamin matlamat keselamatan dan kesejahteraan didunia dan akhirat.

Dasar-dasar dan matlamat yang terkandung di dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, diterjemahkan pula oleh para ulama Mujtahidin. Mereka inilah yang bertindak sebagai Team Pengurusan yang membangunkan metode/uslub perjuangan, agar tidak lari dari dasar dan matlamat perjuangan yang telah digariskan oleh pembuat dasar iaitu Allah Rabbul Alamin.

Setelah metode/uslub ini disediakan, terpulanglah kepada diri kita yang menjadi mujahid/mujahidah untuk melaksanakan metode/uslub perjuangan. Nah !!! Mudah bukan.

Inilah sistem yang perlu kita sedari, fahami, yakini dan amalkan untuk berjuang secara bernizam, secara sistematik, secara bijak. Kerana perjuangan ini bukan untuk orang diluar sana ashaja, tetapi ianya lebih khusus buat diri kita sendiri. Seterusnya kepada keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan akhirnya masyarakat.

Yang menyebabkan sistem perjuangan kita gagal, ialah apabila kita menafikan keupayaan ulamak Mujtahidin dalam membangunkan metode/uslub perjuangan. Sebaliknya kita menceduk metode/uslub musuh-musuh Islam di dalam perjuangan kita. Mana mungkin kita ingin memperjuangkan suatu dasar yang pasti menjamin keselamatan di dunia dan di akhirat, yang digubal sendiri oleh Allah dan Rasulullah SAW, menggunakan metode/uslub musuh Islam yang memang ingin melihat Islam itu hancur lebur ?

Fikir-fikirkanlah.

SYARIAT, MAKRIFAT, TARIKAT, HAKIKAT???? (part 3)

Setelah seseorang mempelajari syariat, serta mengamalkan hukum syariat bersungguh-sungguh dalam setiap aspek kehidupan ( atau dalam erti kata lain dia telah bersyariat dan bertarikat ). Maka Allah akan campakkan ke dalam dirinya rasa kehambaan dan rasa kesyukuran ke dalam dirinya.Mereka rasa lazat dalam beribadah dan merasa azab dalam melakukan dosa dan kemungkaran

Firman Allah : Hanyasanya orang mukmin yang sebenar itu, apabila disebut sahaja nama Allah, gementarlah hati-hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat Quran, bertambahlah keimanan mereka dan hanya kepada Tuhan mereka (Allah) sahajalah mereka menyerah diri.” Al Anfal : 2.



Inilah yang dinamakan HAKIKAT. Hakikat ialah gerak rasa hati yang Allah campakkan ke dalam hati hambanya yang bersungguh-sungguh bersyariat dan mengamalkan syariat ( bertarikat ). Allah akan hapuskan sifat mazmumah (sifat hati yang terkeji) dalam hatinya dan Allah gantikan dengan sifat mahmudah (sifat hati yang terpuji ). Hakikat ini bukan ilmu yang boleh dipelajari, tetapi ianya anugerah Allah ke atas hamba NYA yang bersungguh-sungguh mempelajari, memahami, meyakini ilmu syariat secara ilmiah.serta melaksanakan hukum-hakam NYA (bersyariat dan bertarikat).

Bersesuaian dengan firman Allah : “Orang-orang yang bermujahadah pada jalan KAMI, KAMI tunjukkan jalan KAMI, Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang baik” Al Ankabut : 69.

Maka akan lahirlah manusia yang hatinya terpaut kecintaan kepada Allah. Manusia yang apabila disebut nama Allah, maka akan gementarlah seluruh jasad dan rohaninya. Akan lahirlah manusia yang memenuhi tuntutan konsep ibadah secara global yang mampu melaksanakan konsep ibadah menurut Islam yang merangkumi ibadah Asas, ibadah fadailul a’mal ( yang terkandung didalamnya amalan fardhu kifayah ) dan ibadah yang umum. Akan lahirlah manusia yang cantik dan anggun akhlaknya sebagaimana memenuhi tuntutan perutusan Rasul ke mukabumi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Ingin diulangi bahawa hakikat adalah perasaan rasa hati yang telah Allah campakkan kepada hamba NYA yang berusaha gigih untuk mendekatkan diri kepada NYA.Allah hapuskan sifat mazmumah dan Allah gantikan dengan sifat mahmudah. Maka lahirlah dan hiduplah manusia itu dengan keadaan yang tenang dan berkhlak mulia, Inilah buah kepada pengamalan syariat. Inilah buah kepada iman & dan ibadah kepada Allah. Akhlak terpuji seperti sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak”.

Dalam ertikata lain, hakikat adalah buah dari syariat dan tarikat. Atau lebih tepat, hakikat adalah buah kepada pengabdian diri kepada Allah. Allah hapuskan sifat mazmumah dalam dirinya dan Allah gantikan dengan sifat mahmudah. Agar seseorang itu merindui saat beribadah bersama Allah. Dalam erti kata lain, hakikat adalah buah kepada ibadah. Hakikat adalah hasil seseorang beribadah kepada Allah dengan kesungguhan hati. Ianya adalah anugerah Allah SWT. Maka akan lahir rasa takut kepada Allah, rasa tawakal dengan Allah, rasa harap kepada Allah, dan setiap amal perbuatan, perkataan dan gerak hati mereka sentiasa di pautkan kepada Allah. Setiap kejadian dan penciptaan alam dihubungkaitkan dengan kekuasaan dan keagungan Allah bagi menambah keimanan kepada Allah. Setiap kejadian musibah dan bala juga dihubungkaitkan dengan kekuasaan Allah dan kelemahan manusia sebagai makhluk bagi menyuburkan sifat sabar dan redha kepada Allah. Setiap kejadian nikmat dihubungkaitkan juga dengan kekuasaan Allah dan kelemahan manusia sebagai makhluk bagi menyuburkan rasa kesyukuran dan kehambaan. Disinilah tahap keimanan seseorang telah terserlah. Dia bukan sahaja mengenal Allah dengan akal fikiran melalui ilmu tauhid, tetapi juga secara keyakinan hati. Inilah yang diistilahkan sebagai makrifat. Makrifat ialah keyakinan yang memperkuatkan keimanan kepada Allah setelah menempuh syariat dan tarikat, serta mencapai rasa hakikat. Orang yang memiliki makrifat inilah yang dinyatakan sebagai orang yang mengenal Allah dengan mata hati, ainul yakin. Orang yang sebeginilah yang diisyaratkan sebagai memiliki sifat yang disebut dalam Al Quran :

Al Anfal : Ayat 2-3 :Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Apabila seseorang telah menempuh syariat dan beramal dengan ilmu syariat ( bertarikat ) serta diberi hakikat, maka lahirlah sifat makrifat. Sifat makrifat kepada Allah Taala yang akan memancarkan berbagai perasaan yang baik dan dasar semangat untuk menuju ke arah perbaikan. Makrifat ini dapat pula mendidik hati untuk senantiasa menyelidiki dan meneliti mana yang salah dan tercela, malah dapat menumbuhkan kemauan untuk mencari keluhuran, kemuliaan dan ketinggian budi dan akhlak dan sebaliknya juga menyuruh seseorang supaya menghindarkan dirinya dari amal perbuatan yang hina, rendah dan tidak berharga sedikit pun.

Orang yang telah mencapai tingkatan makrifat , Allah ilhamkan jalan yang mampu membawanya ke arah kecemerlangan agar dia dapat menempuhnya dengan mudah. Dia juga akan Allah ilhamkan kepadanya jalan yang membawa kemusnahan agar dapat dia hindari sebagaimana firman Allah :

“Maka Allah ilhamkan kepada jiwa itu, jalan kefasiqan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang –orang yang mensucikan jiwa (nafsu) nya itu . Dan sesungguhnya merugilah ( celakalah ) orang yang mengotorinya.” As Syams : 8 - 10..

Orang yang mendapat hakikat dan makrifat, dia akan merasa dirinya sebagai hamba Allah yang hina. Tidak akan terlafaz dari lidahnya bahawa dialah yang paling bertaqwa. Tidak akan terlafaz dari perbuatannya tanda-tanda riak. Tidak terlintas di hatinya bahawa dialah yang paling kuat iman dikalangan manusia dan yang paling banyak amal ibadah dia antara makhluk Allah yang hidup di dunia. Seandainya ada di kalangan manusia yang memuji akan keupayaannya beribadah kepada Allah SWT, pujian itu dianggap suatu ancaman yang bakal merosakkan hubungan antara dia dan Allah. Dia akan segera menghentikan puji-pujian tersebut demi menjaga hatinya dengan Allah. Inilah sifat orang yang benar-benar memiliki hakikat dan makrifat. Seandainya dia merasa senang dan selesa dengan pujian tersebut , serta tidak menghentikannnya, nyatalah apa yang alami bukanlah hakikat mahupun makrifat, sebaliknya adalah tipu daya syaitan dan nafsu dalam amalannya. Hancur dan binasalah amalan itu kerana ujub. Orang yang telah beroleh hakikat dan makrifat, tidak sama sekali menceritakan keseronokan bersama Allah kerana ianya adalah rahsia antra orang yang merasa kasih sayang Allah. Ianya juga disebabkan orang yang "sedang asyik bercinta" tidak ada masa untuk menceritakan rasa cinta yang dirasai kepada orang lain. Inilah cara membezakan sama ada seseorang yang pada zahirnya cantik akhlaknya, benar-benar telah memiliki hakikat dan makrifat, atau sebenarnya sedang berlakon memiliki hakikat dan makrifat. Atau dalam istilah lain, sedang ujub, atau istilah melayunya syok sendiri. Malanglah bagi mereka yang telah menempuh syariat dan tarikat, tetapi merasa ujub dan menyangka diri telah mencapai hakikat dan makrifat. Tertipu dalam beribadah.

Mudah-mudahan penerangan ilmiah ini akan mendorong kita untuk terus mempertingkatkan amalan kita ke arah ketaqwaan.

SYARIAT, MAKRIFAT, TARIKAT, HAKIKAT???? (part 2)

Bagi mereka yang berusaha bersungguh-sungguh mengamalkan dan melaksanakan hukum syariat, inilah yang dinamakan TARIKAT atau disebut dalam bahasa arab ialah TAREKAH. Tarikat dari segi bahasa ialah jalan. Ingin diulang lagi agar lebih jelas. Apabila seseorang telah mempelajari, memahami dan meyakini ilmu syariat, lalu dia meLAKSANAKAN atau BERAMAL dengan ilmu syariat tersebut, maka itulah yang diertikan dengan TARIKAT. Melaksanakan atau beramal dengan syariat. Oleh itu apabila seseorang menjalankan atau melaksanakan hokum syariat dengan bersungguh-sungguh, setiap suruhan Allah sama ada yang wajib dan yang sunat dilaksanakan sungguh-sungguh. Setiap larangan Allah sama ada yang haram atau yang makruh ditinggalkan sungguh-sungguh. Maka mereka telah dikatakan telah BERTARIKAT.



Contohnya ; Abu telah ke madrasah dan mempelajari cara sembahyang. Dia telah mempelajari rukun sembahyang, syarat wajib sembahyang, perkara yang sunat dilakukan dalam sembahyang, syarat sah sembahyang dan perkara-perkara yang membatalkan sembahyang. Setelah dia mempelajarai dan memahami ilmu tersebut, dia pun beramal dengan ilmunya untuk menunaikan sembahyang. Maka Abu telah dikatakan telah berTARIKAT di bidang sembahyang.

Tarikat pada erti kata yang pertama ini hukumnya adalah WAJIB. Inilah jalan yang dilalui oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta tabiin dan orang dizaman salafussoleh. Jalan inilah juga yang patut kita lalui, iaitu jalan yang menjadikan kita melaksanakan segala perintah yang disuruh Allah dan meninggalkan perintah yang dilarang oleh Allah. Inilah perkara yang wajib kita lakukan sebagai makhluk yang dicipta Allah dan mahu menjadi hamba kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Berkuasa.

Adapun Tarikat dari istilah yang kedua, ialah apabila seseorang menyusun ayat-ayat Al Quran tertentu, zikir-zikir tertentu, salawat ke atas Nabi Muhammad SAW dan diamalkan secara berjadual dalam kehidupan sehari-harian. Tarikat yang diertikan disini hokum asalnya hanyalah SUNAT. Dari sinilah lahir jemaah-jemaah zikir atau dipanggil orang sebagai jemaah tarikat. Antara jemaah zikir atau jemaah tarekat yang kita sering dengar ialah Tarikat Ahmadiah, Tarikat Naqsyabandiah, Tarikat Samaniah, Tarikat Syazaliah, Tarikat Kadiriah, Aurad Muhammadiah dan lain-lain lagi. Jadi termasuk jugalah di dalam kategori ini ialah pengamalan Al Ma'thurat. Tujuan mereka menghimpun dan beramal adalah untuk mendidik diri untuk berdisiplin dalam beramal dengan ketiga-tiga juzuk ilmu Islam iaitu Tauhid, Feqah & Tasauf

Secara tak langsung memberi kekuatan jiwa tambahan untuk beramal dengan hukum syariat secara keseluruhan, dalam kehidupan sehari-hari. Sama ada dalam diri, dalam keluarga, dalam masyarakat hingga ke peringkat negara. Sebab itu jika disingkap lembaran sejarah, tunggak perjuangan sesuatu gerakan Islam adalah disokong oleh jemaah zikir atau tarekat. Sultan Muhammad Al Fateh, sultan yang berjaya menawan Kota Konstantinopel dan pengasas Kekhalifahan Osmaniah adalah ahli zikir ( ahli tarikat ) , Begitu juga As Syahid Omar Mokhtar pejuang terakhir Gerakan Sanusi yang merupakan benteng pertahanan terakhir khalifah Osmaniah adalah pengamal Tarekat As Sanussiah. Imam Bonjol di Aceh yang menentang penjajahn Belanda adalah ahli tarekat Naqsyabandiah. Mat Kilau dan datok Bahaman yang berguru dengan Tokku Paloh adalah pengamal tarekat Naqsyabandiah. Malah As Syahid Hassan Al Banna dari Ikhwan Muslimin adalah ahli tarekat aliran Al Ma’thurat.

Tidak lupa disebut Almarhum Tok Kenali yang berguru dengan Sheikh Ahmad Al Fathani dari aliran Tarekat Syattariah dan Al Marhum Tokku Paloh dari aliran Tarekat Naqsyabandiah. Tokku Paloh yang melindungi Mat Kilau dan Datok Bahaman sewaktu diburu British. Tokku Paloh yang melarikan kedua-dua anak muridnya dan disembunyikan di Hulu Besut. Mereka ini bukan sekadar menyumbang di dalam perjuangan Islam menentang penjajah, malah mereka juga membangunkan pendidikan Islam serta menghasilkan kitab-kitab ilmu Tauhid, Feqah dan Tasauf yang menjadi sumber rujukan kepada umat Islam di nusantara. Antaranya ialah :

a. Sheikh Daud bin Abdullah Al Fathani menghasilkan kitab Dhiyaul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid yang membicarakan ilmu tauhid dari aliran tarekat Syatariah.
b. Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani yang menulis kitab Risalah Tauhid dan Hidayatus Salikin Fisuluki Maslakil Muttaqin kitab ilmu Tauhid dan Tasauf; adalah dari aliran tarekat Samaniah.
c. Sheikh Ahmad Al Fathani yang menulis kitab Faridatul Faraid yang juga kitab ilmu tauhid yang memperjelaskan aqidah ahlus sunnah wal jamaah, adalah ahli tarekat
d. Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin

Malangnya, kita dizaman moden ini, telah dijauhkan dengan istilah tarekat oleh orientalis. Apatah lagi wujud fahaman Islam yang menyeleweng. Kononnya mereka adalah pejuang kemerdekaan. Sebaliknya sejarah telah JELAS membuktikan fahaman tersebut lahir untuk membantu negara kuffar menjatuhkan empayar Osmaniah yang merupakan sistem kekhalifahan Islam terakhir serta menghalang segala usaha gerakan-gerakan Islam yang cuba membangunkan semula system khalifah Islam. Fahaman inilah yang sering memomok-momokkan umat Islam, bahawa jemaah tarekat adalah bidaah dan menyesatkan, kerana disebalik amalan zikir yang membawa ketenangan hati, disitulah lahirnya rasa kehambaan dan cinta kepada Allah Yang Maha Agung. Maka terciptalah manusia-manusia yang cintakan syahid dan merindui pertemuan dengan Allah Yang Amat Dicintai, yang mampu berjuang dan berkorban demi keagungan Islam terserlah kembali. Inilah yang amat ditakuti oleh fahaman terseleweng tersebut kerana akan hilang imbuhan menjadi boneka negara kuffar.

Tidak kurang juga, orang yang belajar sedikit-sedikit tentang ilmu tarikat, dan sedar kelebihan ilmu tarikat ini. Mereka mengambil kesempatan dengan memperbodohkan para pengikutnya yang sedia jahil. Bab dan persoalan ilmu syariat yang menjadi asas kepada perlaksanaan dan pengamalan Fardhu Ain dia abaikan dalam mendidik murid dan pengikutnya, agar dia boleh terus mempunyai para pengikut yang taksub buta yang jahil tentang syariat. Ini bagi memudahkan dia mempunyai kuasa dan menghimpunkan kepentingan duniawi termasuk mengaku dirinya wali Allah yang dijanjikan. Seandainya para pengikutnya arif dibidang agama khususnya ilmu asas Fardhu Ain, pastinya dia akan kehilangan pengikut. Jadi dia akan berusaha untuk menjauhkan para pengikutnya dari ilmu asas Fardhu Ain, sebaliknya dia sibuk menceritakan hal-hal kerohanian ciptaannya yang kononnya diterima dari Rasulullah dan secara langsung dari Allah. Manusia-manusia durjana sebeginilah yang mendatangkan fitnah ke atas jemaah tarikat yang haq.

Ingin ditegaskan sekali lagi bahawa antara kedua pengertian tarikat yang dibentang tadi, antara keduanya, pengerian yang pertama ( mengamalkan syariat secara keseluruhan ) adalah WAJIB, sementara tarikat dari pengertian kedua ( himpunan ayat Al Quran tertentu, zikir-zikir tertentu, selawat dan diamalkan secara berjadual dalam kehisupan harian) adalah SUNAT. Antara hukum yang WAJIB dan hokum yang SUNAT, tuntutan hukum yang WAJIB adalah lebih utama. Jangan sampai kerana hendak bertarikat dengan pengertian kedua yang kedudukannya SUNAT, lantas kita mengabaikan tarikat dalam pengertian yang pertama yang kedudukannya WAJIB. Kiasannya, perlaksanaan hokum yang wajib adalah KERJA FULLTIME, sementara pengamalan hokum yang sunat adalah OVER-TIME. Kalau kerja FULL-TIME tak dibuat, layakkah pekerja buat tuntutan kerja OVER-TIME ? Pastinya tidak layak, malah pekerja tersebut layak untuk diambil tindakan tatatertib. Kerana pengabaian untuk beramal dengan syariat menurut pengertian pertama tadilah maka munculnya fitnah ke atas jemaah-jemaah tarikat yang menurut pengertian kedua. Tetapi ingin ditegaskan juga, seandainya tarekat dari pengertian pertama dan dari pengertian kedua itu dilaksanakan atau diGABUNGkan, maka akan lahirlah manusia yang ingin sentiasa bertaqarrub kepada Allah. Akan lahirlah manusia yang akan menunaikan titah perintah Allah, dalam dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan seterusnya di dalam ummahnya.

Bersambung .....

SYARIAT, MAKRIFAT, TARIKAT, HAKIKAT???? (part 1)

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya: "Adakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya" ( Surah Al Baqarah :30)




Diciptakan manusia oleh Allah dimukabumi bukanlah hanya untuk bersenang-lenang mengecapi tipu daya dunia, tetapi Allah telah datangkan manusia ini di muka bumi sebagai khalifah NYA untuk mentadbir dunia ini agar mematuhi hukum-hakam dan peraturan yang telah Allah tetapkan. Allah sahaja yang layak menentukan peraturan bagi setiap ciptaan NYA. Ibarat sebuah televisyen jenama SONY, adalah mustahil manual pengguna dari jenama SAMSUNG digunapakai oleh pengguna untuk mengoperasikan peralatan tersebut. Begitu jugalah dunia dan alam ini, ianya ciptaan Allah, maka Allah sahajalah yang selayak menentukan peraturan yang wajib dipatuhi oleh makhluk ciptaan NYA. Peraturan selain dari apa yang Allah telah tetapkan adalah peraturan yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan hidup manusia. Manusia kini kerana keegoan, mereka menilai sesuatu bukan menggunakan neraca hukum-hakam yang telah Allah sediakan, sebaliknya mereka menggunakan rasa naluri keseronokan nafsu ke atas duniawi sebagai kayu pengukur kebenaran dan kebatilan. Sebab itu tidak hairan di dunia kini, kita dapat saksikan dengan mata kepala kita sendiri, apabila hukum-hakam Allah diketepikan, dan peraturan ciptaan akal fikiran manusia yang lemah digunapakai, maka lahirlah kerosakan di lautan dan didaratan oleh hasil tangan manusia itu sendiri.Segala-galanya ialah kerana mereka tidak mahu menghukum dengan hukum-hakam yang telah Allah tetapkan. Hukum-hakam inilah diertikan dengan syariat.

Syariat ialah hukum hakam Allah atau peraturan-peraturan yang telah Allah tetapkan melalui firman NYA di dalam Al Quran dan disampaikan oleh Sunnah Rasulullah SAW.

Untuk lebih mudah difahami dan diamalkan oleh umat yang terkemudian, syariat yang menjadi peraturan atau hukum hakam Allah yang terkandung didalam Al Quran & Sunnah Rasulullah SAW , telah diterjemahkan oleh ulamak Imam mazhab yang empat dan diberi contoh dengan qias. Adapun hukum syariat itu terbahagi kepada lima. Setiap tindak tanduk, amal perbuatan dan percakapan dalam kehidupan sehari-harian kita tidak terlepas dari 5 hukum syariat ini. Kelima-lima hukum dalam syariat itu adalah seperti berikut :

1. Wajib = dibuat dapat pahala, ditinggalkan berdosa, kedudukannya MESTI buat
2. Sunat = dibuat dapat pahala, ditinggalkan tak mengapa . kedudukannya ELOK buat
3. Haram = dibuat berdosa, ditinggalkan dapat pahala, kedudukannya MESTI tinggal
4. Makruh = ditinggalkan dapat pahala, dibuat tak mengapa, kedudukannya ELOK tinggalkan
5. Harus = dibuat atau ditinggalkan dosa tak dapat, pahala pun tak dapat, kedudukannya terpulang pada diri sendiri tempoh 5 syarat ibadah , beroleh pahala. Lima syarat tersebut ialah :

a) Niat mesti betul
b) Perlaksanaan mesti selaras dengan syariat
c) Natijah mesti betul tidak bertentangan syariat
d) Perkara yang dibuat dan dilaksanakan dibenarkan oleh syariat
e) Tidak meninggalkan ibadah yang asas

Apabila Syariat menyuluh/ mengatur hal ehwal keyakinan dan keimanan, dinamakan Usuluddin / Tauhid. Apabila Syariat menyuluh hal ehwal lahiriah, peraturan yang zahir, dinamakan Feqah. Dan apabila Syariat menyuluh / mengatur hal ehwal hati , sifat-sifat hati, dinamakan Tasauf/Akhlak

Inilah yang disebutkan di dalam Hadis Rasulullah SAW berkenaan Iman, Islam dan Ihsan.

Dari Umar Ibnul-Khattab r.a, katanya : Sedang kami duduk di dalam majlis bersama Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba mucul di dalam majlis itu seorang laki-laki yang berpakaian serba putih, berrambut terlalu hitam, tiada kesan bahawa ia seorang musafir, dan tiada antara kami yang mengenalinya, lalu duduk ia bersama Rasulullah SAW, dan ditemukan kedua lututnya dengan kedua lutut Rasulullah SAW serta diletakkan kedua tapak tangannya ke atas kedua paha Rasulullah SAW, lalu berkata : Sipemuda : Khabarkan aku tentang Islam ? Rasulullah : Islam, iaitu hendaklah mengucap syahadat - bahawa tiada Tuhan melainkan Allah Ta'ala dan bahawasanya Muhammad itu Rasulullah, dan hendaklah bersembahyang, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah apabila berdaya ke sana. Sipemuda : Benar katamu. ( Berkata Umar r.a : Kami merasa hairan kepada tingkah laku sipemuda itu, dia yang bertanya dan dia pula yang mengiyakannya ) Sipemuda : Khabarkanlah kepada ke tentang Iman ? Rasulullah : Hendaklah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Akhirat dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir Allah yang baikNya atau yang burukNya. Sipemuda : Benar katamu ! Khabarkanlah kepadaku tentang Ihsan ? Rasulullah : Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya. Sekiranya engkau tidak dapat melihatNya sesungguhnya Allah sentiasa dapat melihat engkau. Sipemuda : Khabarkan padaku tentang hari kiamat ?. Rasulullah : Tiadalah orang yang ditanya itu lebih mengetahui dari orang yang bertanya. Sipemuda : Khabarkan padaku tentang tanda-tandanya ? Rasulullah : Apabila hamba perempuan melahirkan tuannya sendiri ; Apabila engkau melihat orang yang berkaki ayam, tidak berpakaian, pengembala kambing ( berbangga ) membina bangunan yang tinggi-tinggi. ( Kemudian beredar keluar sipemuda itu dari majlis tersebut ) : Rasulullah : Tahukan anda wahai Umar siapakah pemuda yang menyoal kau tadi ? Umar Al-Khattab : Allah dan RasulNya jua yang mengetahui. Rasulullah : Itulah Jibril a.s yang telah mendatangi aku untuk mengajarkan kamu pelajaran agama kamu. ( Sahih Bukhari )

Maka sebagai khalifah Allah yang telah diamanahkan untuk melaksanakan hukum-hakam Allah dimukabumi, tanngungjawab ke arah perlaksanaan hukum syariat tersebut hendaklah dilaksanakan. Perlaksanaan hokum syariat dari perkara yang remeh temeh seperti qadha hajat hinggalah ke aspek kehidupan yang lain seperti membangunkan institusi kekeluargaan, pendidikan, ekonomi dan kenegaraan. Perlaksanaan hukum syariat ini adalah WAJIB bagi setiap muslim. Barangsiapa yang tidak menghukum dengan hukum-hakam atau peraturan yang telah Allah tetapkan, maka akan jatuh ke atas mereka salah satu dari tiga hukum iaitu FASIQ, ZALIM atau KAFIR wal iyazubillahi min zalik

Maka kesimpulannya, SYARIAT lah yang menjadi kayu ukuran dan piawai untuk menilai sejauh mana benar sesuatu amalan, sejauh mana kebenaran sesuatu keprcayaan, sejauhmana kebenaran sesuatu amal perbuatan, perkataan dan sebagainya. Inilah neraca yang perlu digunakan oleh umat Islam dalam menempuh kehidupan di dunia menuju ke negara akhirat yang kekal abadi. Syariat inilah yang menjadi titik tolak dalam kita mengatur setiap langkah-langkah menyelusuri perjalanan ke arah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jika Syariat diabaikan, walau pun kita mengaku pandai, kita mengaku hamba Allah, walau kita mengaku pejuang Islam, walau kita mengaku ahli tarikat, mengaku ahli hakikat dan ahli makrifat, mengaku waliyullah dan sebagainya, pengakuan kita hanyalah sia-sia. Tiada nilai disisi Allah SWT.

Bersambung .....