Photobucket
Showing posts with label AL-QUR'AN. Show all posts
Showing posts with label AL-QUR'AN. Show all posts

Sunday, November 7, 2010

KEJADIAN MANUSIA

Walau bagaimana manusia mengkaji dan mencari, namun manusia tetap tidak akan mengenal dirinya seperti di kemukakan oleh Allah.  Dia saja yang mengetahui hakikat kejadian diri manusia seperti dalam surah Al Mulk : 14


Tidakkah Allah yang menciptakan sekalian makhuk itu mengetahui (segala-galanya) sedang IA amat halus urusan tadbirnya lagi amat mendalam pengetahuannya.  Dan Dia  maha mengetahui dengang segala ciptaan..



Menurut Quran manusia dicipta oleh Allah daripada dua unsur iaitu jasmani dan rohani.

Proses kejadian Adam, Al Quran ada menyebutkan dicipta:

1. Daripada air

2. Daripada tanah al -Turab

3. Daripada pati tanah

4. Daripada tanah tin yang liat dan sebati

5. Daripada tanah yang panas dan berbau

6. Daripada tanah yang keras seperti tembikar

7. Daripada tanah bumi

8. Menjadikan bentuk dan rupa


Pada dasarnya unsur jasmani manusia dicipta daripada tanah.

Allah hanya akan meniupkan roh pada jasmani manusia selepas dijadikan bentuk rupanya.

Allah menjelaskan kejadian manusia adalah sebaik dan seindah kejadian iaitu keindahann dalam kedua-dua unsurnya iaitu jasmani dan rohani.  Bentuk lahir atau jasman adalah daripada ciptaan Allah.

Bagi mendapatkan keindahan rohani ia diserahkan kepada manunsia untuk membentuk diri kerohaniannya. Manusia perlu menaburkan unsur kerohaniannya ke dalam 'Acuan Allah".

Allah mencipaka kita dalam bentuk yang indah dan sempurna sejak awal kejadian kita, ini di jelaskan daln surah Al Tin : 4

Sesunggunnya kami (Allah) menciptakn manusia itu dalam sebaik-baik cara kami menjadikan sesuatu kelengkapan sesuai dengan keadaannya.

Sunday, October 31, 2010

SOLAT


Syarat-syarat kebatinan dari gerak laku
hati

Ketahuilah bahawa dalil-dalil pada mensyaratkan khusyu' atau kehadiran hati dalam solat itu banyak sekali, di antaranya firman Allah Ta'ala:
Dan dirikan solat itu untuk mengingatiku (Taha: 14)
Nyatakan perintah untuk mendirikan solat itu merupakan perintah yang wajib. Kelalaian dan kelengahan dalam perkaranya adalah bertentangan dengan maksud mengingatkan Allah. Barangsiapa yang lalai atau lena dalam semua solatnya, tidak boleh dikatakan dia mendirikan solat kerana mengingati Allah.
Allah berfirman:
Dan janganlah kamu termasuk golongan orang-orang yang lalai. (al-A'raf: 205)
Ayat di atas memberikan maksud larangan, tetapi lahirnya menunjukkan pengharaman. Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
Sehingga kamu sekalian mengetahui apa-apa yang kamu ucapkan. (an-Nisa': 43)
Ayat tersebut memberikan maksud larangan bagi orang-orang yang mabuk untuk memasuki solat. Ini boleh juga dikenakan ke atas orang-orang yang lalai, orang-orang yang berserabut fikirannya dengan waswas dan hal-ehwal keduniaan.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
Hanyasanya solat itu adalah dengan bertenang diri dan merendahkan diri.
Dimulakan dengan rangkaikata hanyasanya di sini, bermaksud bahawa solat yang dilakukan tanpa keterangan dan kerendahan diri bukanlah dinamakan solat yang dituntut oleh syara'.
Sabda Rasulullah s.a.w.:
Barangsiapa bersolat, padahal solatnya itu tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka orang itu tiada akan bertambah sesuatu dari Allah melainkan jauh daripadanya.
Sebenarnya solat orang yang lalai itu tentu sekali tidak akan mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.
Sabdanya lagi:
Betapa banyaknya orang yang mendirikan solat, tetapi bahagaian yang didapatinya dari solat itu hanya penat-lelah semata-mata.
Yang dimaksudkannya di sini tiada lain, melainkan orang yang lalai.
Sabdanya lagi:
Tiada sesuatu yang diperolehi seseorang hamba dari solatnya, melainkan apa yang dibuatnya dengan akal yang penuh kesabaran.
Yang sudah terang dan jelas dari semua ayat-ayat dan Hadis-hadis di atas, bahawa orang yang sedang dalam mengerjakan s embahyang itu, sedang bermunajat atau sedang berbicara dengan Tuhannya Azzawajalla, sebagaimana yang telah diriwayatkan dari Rasulullah s.a.w. Padahal kita semua telah mengetahui, bahawa orang yang berbicara sedangkan dia lalai dan tidak hadir hatinya, tidaklah boleh dinamakan munajat sama sekali.
Jika seseorang bersumpah dengan berkata: Sungguh-sungguh aku akan berterima kasih kepada si Fulan, aku akan memujinya serta memohon daripadanya sesuatu hajat, lalu di dalam tidurnya dia bermimpi bahawa dia mengucapkan kata-kata itu (yakni apa yang dia bersumpah tadi), maka tiadalah terkira luput atau gugur dia dari sumpahnya itu.
Ataupun jika dia mengucapkan kata-kata itu di sebuah tempat yang gelap-gelita, sedangkan si Fulan yang harus ditunjukkan sumpahnya itu berada di situ, tetapi dia tiada mengatahui kehadiran si Fulan itu di situ dan tiada melihatnya ketika itu, maka hukumnya tiada juga gugur dia dari sumpahnya tadi, sebab semua ucapannya itu tidak ditunjukan kepada si Fulan yang dimaksudkan, kerana si Fulan itu tidak hadir dalam hatinya ketika kata-kata itu diucapkan.
Ataupun jika dia mengucapkan kata-kata itu di siang hari dan kali ini pula si Fulan yang harus ditunjukan sumpahnya itu ada di situ, dapat dilihat olehnya dengan terang, Tetapi malangnya, dia lalai dan lena, kerana ketika itu, barangkali dia sedang dalam keadaan susah atau banyak fikiran. Dia mengucapkan kata-kata itu, padahal hatinya di tempat lain, tidak ditunjuk ucapanya itu kepada si Fulan yang termaksud itu, maka hukumnya sama belaka, iaitu tiadalah dia gugur dari sumpahnya.
Sememangnya sudah tidak dapat disangsikan lagi, bahawa maksud daripada bacaan dan zikir di dalam solat itu, adalah untuk memanjatkan puji-pujian, kesyukuran, kerendahan diri serta doa kepada Allah s.w.t. Seolah-olah kita bercakap-cakap kepada Allah azawajalla yang berada di hadapan kita. Maka kiranya hati kita tertutup oleh tabir kelalaian, sudah tentulah Zat Allah s.w.t. akan terlindung dari hati kita, maka kita tidak akan dapat melihat atau menyaksikanNya. Malah hati kita itu akan menjadi lalai dari yang diajak bercakap-cakap itu, dan tinggallah mulutnya saja yang komat-kamit menurut kebiasaanya. Alangkah jauhnya orang ini dari pengertian solat yang sebenarnya yang disyaratkan untuk menggilapkan (membersihkan) hati dan membaharukan zikir Allah azzawajalla serta memperkukuh ikatan keimanan.
Pendekata kehadiran hati dalam solat merupakan jiwa dan roh kepada solat itu sendiri. Barangsiapa yang mengenal rahsia-rahsia solat, mengertilah dia bahawa kelalaian atau ketidak-hadiran hati di dalamnya menyalahi atau bertentangan dengan sifat solat yang betul.
Syarat-syarat keistimewaan solat
Syarat-syarat yang menjadikan sesuatu solat itu istimewa dari segi kebatinannya banyak sekali, tetapi bolehlah disimpulkan kepada enam perkara:
(1) Kehadiran hati dalam solat.
(2) Mengerti bacaan-bacaan solat.
(3) Membesarkan Allah dalam solat.
(4) Merasakan kehebatan Allah dalam solat.
(5) Penuh harapan.
(6) Perasaan malu.

PERSAUDARAAN

Kesetiaan kepada Allah, persaudaraan, dan solidaritas, adalah sifat-sifat penting orang beriman. Al-Qur'an mengatakan bahwa semua orang beriman adalah bersaudara. Mereka adalah orang-orang yang berbagi perasaan yang sama, berjuang untuk akhir yang sama, mengikuti kitab yang sama, dan berjuang untuk tujuan yang sama. Akibatnya solidaritas menjadi keunggulan alami dari sebuah komunitas orang beriman. Allah memuji kasih sayang orang beriman ini di dalam ayat berikut:
Sesungguhnya Allah menyayangi orang-orang yang berjihad di jalannya. As-Shaff: 4
Berpegang teguhlah kamu sekalian pada agama Allah, dan janganlah kamu berpecah belah. Ingatilah karunia Allah kepadamu, ketika kamu dahulunya bermusuh-musuhan, lalu dipersatukan-Nya hatimu, sehingga kamu dengan karunia Allah itu menjadi bersaudara. Dan kamu dahulunya berada di tepi jurang neraka, lalu Allah melepaskanmu dari sana. Demikianlah Allah menjelaskan keterangan-keteranganNya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. 
Al-Imran: 103
Orang-orang beriman adalah orang-orang rendah hati yang memiliki rasa persahabatan dan kasih sayang satu sama lain. Karenanya solidaritas dan persatuan diantara mereka terpelihara secara alami. Namun di dalam komunitas semacam ini ada saja hal-hal yang membuat kita tetap harus berhati-hati karena sikap yang salah dapat menyebabkan perpecahan dan menciptakan iklim yang merusak solidaritas di antara orang-orang yang beriman.
Alasan dasar untuk sikap-sikap yang tidak diingini tersebut adalah jiwa (nafsun). Memang benar bahwasanya seorang mukmin itu toleran dan hangat. Namun setiap orang memiliki sisi jahat dalam jiwanya, dan pada saat sedang lemah moral, seseorang dapat dengan mudah dikendalikan oleh sisi jahat jiwanya. Dengan kata lain dia bisa terpengaruh oleh kecemburuan, ego diri, ataupun ambisi.
Itulah sebabnya Al-Qur'an menekankan bahwa pengaruh kuat dari sisi jahat jiwa sebagai ancaman serius bagi persatuan orang beriman. Mengingat bahwa jiwa dapat menunjukkan isyarat setan pada manusia dan dapat menyesatkan orang mukmin, mereka seharusnya menghindari bersikap dalam tata cara yang akan memprovokasi sisi jahat mukmin lain. Di dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan sebagai berikut:
Dan katakanlah kepada para hambaku-Ku: "Hendaklah mereka berbicara dengan ucapan yang sebaik-baiknya" dalam berdakwah. Bahwasanya setan itu suka menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya antara setan dan manusia terbentang permusuhan sejak dahulu. Isra: 53
Ayat di atas secara meyakinkan memberikan sebuah pesan penting. Allah memerintahkan kepada orang beriman untuk saling menegur menggunakan cara terbaik yang mungkin dilakukan (bukan hanya "baik" tapi "terbaik") sebab setan juga bertujuan menciptakan pertikaian diantara orang beriman.
Metode inti yang setan gunakan untuk memecah persatuan diantara orang beriman adalah untuk menanamkan perasaan bersaing di dalam hati orang beriman. Dalam keadaan tidak sadar, seorang mukmin dapat dengan mudah tergelincir kepada khayalan kemegahan dan mengembangkan ambisi untuk mencapai status tertentu di masyarakat. Dalam suasana hati semacam itu, sungguh mungkin bahwa dia bisa mencoba menetapkan keunggulan diatas orang beriman lainnya. Dengan cara yang sama, dia dapat merasa dengki kepada saudaranya untuk satu atau lain alasan. Walaupun kata dengki kedengarannya biasa-biasa saja, tapi sebenarnya kata itu memiliki arti serius karena "dengki" sama saja dengan memberontak secara terang-terangan kepada Allah. Cermatilah Qur'an surat An-Nisa: 54. Menurut ayat tersebut semua kenikmatan dianugrahkan oleh Allah. Karenanya dengki kepada kenikmatan yang diberikan pada orang lain sama saja dengan menentang kehendak Allah. Itulah sebabnya kenapa orang beriman harus menghindari sifat "dengki". Firman Allah:
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah bertengkar sesamamu, nanti kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu. Dan tabahlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang tabah. Al-Anfal: 46
Ayat tersebut menyiratkan bahwa seorang mukmin seharusnya tidak pernah membiarkan persaingan maupun pertikaian terjadi diantara saudara-saudaranya mengingat persaingan dan pertikaian adalah sifat dasar orang primitif. Seorang mukmin dituntut untuk tidak menimbulkan rasa iri pada diri orang lain. Karenanya sifat rendah hatilah yang dapat membasmi persaingan diantara orang beriman. Sifat kunci lainnya yang ditekankan di dalam Al-Qur'an adalah pengorbanan diri. Seorang mukmin selalu memberikan prioritas kepada kebutuhan dan keinginan orang mukmin lainnya atas dasar kesalehan dan kesenangan berbuat demikian. Al-Qur'an menggambarkan sikap semacam ini sebagai berikut:
Dan kaun ANSHAR yang telah menduduki kota Madinah di mana mereka telah beriman sebelum kedatangan kaum MUHAJIRIN. Mereka berbudi luhur sekali. Terbukti: kesatu mereka mencintai orang-orang Muhajirin yang mengungsi ke kota mereka itu. Kedua tidak minat dalam hatinya untuk mendapatkan pula jatah-pampasan sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang Muhajirin. Sedang yang ketiga mereka lebih mengutamakan kepentingan orang-orang Muhajirin melebihi kepentingan mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan pula. Barang siapa yang menjauhkan dirinya dari sifat-sifat kekikiran, itulah mereka yang beruntung. Al-Hasyr: 9
Pada dasarnya, persaingan, rasa iri, dan sikap suka berdebat adalah tiga faktor dasar yang merupakan ancaman serius terhadap pemeliharaan rasa persaudaraan dan solidaritas diantara orang mukmin. Sifat suka bersaing yang mungkin ditimbulkan oleh ambisi benar-benar merusak ikatan persaudaraan, merusak jiwa, dan menjerumuskan pelakunya kepada kemunduran moral.
Karenanya sungguh bodoh membuang waktu menghalangi mukmin lainnya karena hendak bersaing dan iri, sementara kesempatan tidak terbatas terbentang di hadapan manusia untuk mencapai keridhaan Allah. Sungguh, persaingan tidak pernah terjadi di lingkungan orang-orang yang tujuannya adalah mencapai keridhaan Allah. Seorang mukmin seharusnya tidak pernah lupa bahwa komunitas mukmin itu layaknya sebuah tubuh yang setiap bagiannya saling bekerja sama guna mendapatkan keadaan yang sempurna. Dalam konteks ini seorang mukmin seharusnya melihat keberhasilan saudaranya seolah-olah itu adalah keberhasilannya sendiri. Ini adalah konsep yang sangat penting. Ada banyak ayat Al-Qur'an yang menekankan pentingnya persaudaraan. Dalam sebuah ayat, sebuah doa yang dipanjatkan oleh orang mukmin diceritakan:
Dan mereka mengikuti jejak kaum Muhajirin dan Anshar sampai hari kiamat, mengucapkan doa: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Dan janganlah Engkau biarkan kedengkian sampai bersarang dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Engkau sungguh-sungguh Maha Penyantun dan Penyayang. Al-Hasyr: 10
Perselisihan maupun perdebatan diantara orang mukmin akan merusak keseluruhan perjuangan, mengurangi persatuan dan kekuatan orang mukmin namun menguatkan perjuangan, menambah persatuan dan kekuatan orang kafir. Jika terus begini, penganiayaan oleh orang kafir terhadap orang mukmin akan terjadi kecuali kalau orang mukmin saling melindungi satu sama lain. Al-Qur'an membuat pengamatan berikut:
Adapun orang-orang yang kafir, mereka bersetia kawan terhadap sesamanya dalam menghadapi kaum mukmin. Jika kamu tidak menggalang kesetiakawanan pula seperti mereka, akan terjadilah kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi ini. Al-Anfal: 73
Berikut ini adalah perintah-perintah tegas di dalam Al-Qur'an mengenai persaudaraan dan persatuan diantara orang mukmin:
Janganlah kamu seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang- sengketa sesudah datang kepada mereka bukti yang terang! Untuk mereka disediakan siksaan yang besar. Al-Imran: 105.
Mereka bertanya kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang. Jawablah "Bahwa yang berhak menentukan pembagian harta rampasan perang itu, ialah Allah dan Rasul. Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, peliharalah hubungan baik sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar orang yang beriman. 
Al-Anfal: 1.
Sesungguhnya orang-orang yang berpecah-belah dalam agamanya, sehingga mereka menjadi beberapa golongan, tidaklah hal itu menjadi tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah, untuk kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka tentang apa yang mereka perbuat. 
An-An'am: 159
Seorang mukmin diharuskan untuk saling berkasih sayang antar sesama. Kerendahhatian adalah sifat khusus orang mukmin. Sedangkan kesombongan dan rasa iri bukanlah sifat orang mukmin melainkan sifat orang kafir. Dengan demikian, orang mukmin seharusnya menghindari jeratan sisi jahat jiwanya dan secara terus-menerus memohon perlindungan Allah, bertobat serta berjanji untuk berubah. Adapun kesudahan yang menanti orang yang tidak mengekang sisi jahat jiwanya digambarkan didalam ayat di bawah ini:
Hai orang-orang beriman! Barangsiapa yang murtad di antaramu dari agama Islam, maka kelak Allah akan membangkitkan suatu kaum yang dicintai Allah dan merekapun mencintai-Nya: yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap kecaman orang Ini sebagai celaan keras terhadap golongan munafik yang merasa takut terhadap kecaman para pemimpinnya dari pihak Yahudi.. Itulah karunia Allah. Dan Allah Maha Luas pemberiannya-Nya dan Mengetahui. Al-Maidah:54

Tuesday, August 31, 2010

Interaksi Terbaik Dengan al-Quran


Satu peristiwa yang amat penting kepada umat Islam ialah penurunan al-Quran pada malam Lailatul Qadar. Pada setiap Ramadan, Rasulullah s.a.w. bertadarus, belajar dan memahami al-Quran daripada Jibrail. Ia bukan sekadar membaca tetapi yang lebih penting ialah memahami dan memerhati serta melaksanakan tuntutan al-Quran. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim menyebutkan bahawa Rasulullah s.a.w. telah bersabda : "Tidak ada satu kaum yang berhimpun pada satu rumah Allah daripada rumah-rumah Allah yang membaca al-Quran dan belajar memahaminya dikalangan mereka melainkan Allah menurunkan rahmat dan ketenangan, dilindungi oleh para malaikat dan diingati oleh Allah disisi-Nya". 


Firman Allah, maksudnya: "Bulan Ramadan yang diturunkan padanya al-Quran untuk memberi panduan kepada manusia dan keterangan yang nyata.
(Al-Baqarah: Ayat 185)


Al-Quran merupakan cahaya yang menerangi akal, jiwa dan hati manusia serta panduan kepada sistem kehidupan manusia. Ia menjawab persoalan yang sentiasa terpahat dalam pemikiran manusia mengenai dirinya sendiri sejak sekian lama iaitu dari mana ia datang, apakah tujuan hidup dan ke mana ia akan pergi. Kenapa kehidupan ini adanya hidup dan mati. Al-Quran menjawab kesemua persoalan tersebut.



Firman Allah, maksudnya: "Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya daripada Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah memimpin orang-orang yang mengikuti keredaan-Nya ke jalan keselamatan."
( Al-Ma'idah: Ayat 15-16)


Kedatangan manusia di atas muka bumi ini membawa amanah dan kehidupannya bukan untuk sehari atau setahun sepertimana pendapat segolongan yang mengatakan bahawa yang memisahkan hidup dan mati adalah masa sahaja. Al-Quran menegaskan bahawamanusia ini dijadikan untuk mendiami akhirat untuk selama-lamanya dan kematian itu bukan sebagai penghabisan hidup malahan manusia akan berpindah dari satu negeri yang bersifat sementara ke dunia yang kekal abadi.



Firman Allah, maksudnya: "Kami jadikan kematian dan kehidupan untuk menguji siapakah yang terlebih baik amalannya." Melalui al-Quran manusia mengetahui tujuan dan matlamat hidupnya serta tugasnya sebagai hamba Allah yang memakmurkan bumi ini."
(Al-Mulk: Ayat 2)




Keistimewaan al-Quran sebagai 1dastur Ilahi ialah ia merupakan kitab yang lengkap, sempurna dan tidak mengandungi sebarang kecacatan. Al-Quran menerangkan serta meletakkan asas-asas umum yang diperlukan oleh manusia. 



Firman Allah, maksudnya: "Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah." 
(An-Nahl: Ayat 89)

Keduanya ialah al-Quran merupakan kitab yang mudah dan senang diingat. Allah memudahkan kepada umat Islam menghafal al-Quran serta memeliharanya daripada penyelewengan. Tidak ada satu kitab yang dihafal oleh jutaan orang melainkan al-Quran. Kitab injil juga tidak dihafal oleh tokoh-tokoh agama mereka. Sedangkan al-Quran dihafal oleh kanak-kanak Muslim walaupun bahasa Arab bukan bahasa ibunda mereka

Firman Allah, maksudnya: "Dan sesungguhnya Kami memudahkan al-Quran untuk diingati, maka adakah orang mahu mengambil pelajaran."
(Al-Qamar: Ayat 17)

Keistimewaan ketiga
 ialah al-Quran merupakan kitab yang adil sepertimana keadilan Allah kepada hamba-hambanya tanpa mengira pangkat, keturunan, warna kulit, lelaki ataupun wanita. 
Keistimewaan keempat ialah al-Quran ini kekal dan sesuai untuk semua zaman dan tempat. Al-Quran bukan merupakan panduan untuk satu bangsa atau untuk satu zaman tetapi ia merupakan pembawa rahmat seluruh alam. Al-Qaradawi menyebutkan bahawa al-Quran merupakan sebab kejayaan dan keberkatan orang-orang Islam awal pada zaman Rasulullah. Kehadiran al-Quran telah merubah jiwa, perwatakan dan diri bangsa Arab sehingga mereka dapat membina tamadun ilmu dan iman.

Dalam konteks kini, bagaimana sikap dan interaksi umat Islam dengan al-Quran sedangkan kita mengetahui bahawa apabila kita berpegang dan memahami al-Quran, kita merupakan umat yang terbaik dan termaju. Sebenarnya, umat lain menyedari keadaan kaum Muslimin terhadap al-Quran. Oleh itu, kita dapati beberapa siaran radio antarabangsa memperuntukkan waktu untuk menyiarkan program harian untuk bacaan al-Quran. Mereka berbuat demikian kerana mereka yakin umat Islam hari ini hanya mampu mendengar tetapi tidak memahaminya. Mereka yakin umat Islam tidak akan berubah sikap walaupun mendengar ayat-ayat al-Quran pada setiap hari dan seribu kali sekalipun. Ini disebabkan umat Islam tidak menghiraukan lagi al-Quran yang telah memberi penghormatan yang tertinggi kepada manusia. Rasulullah pernah mengadu kepada Allah mengenai sikap umatnya yang menjadikan al-Quran suatu yang tidak diacuhkan.

Firman Allah, maksudnya: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini suatu yang tidak diacuhkan." 
(Al-Furqan: Ayat 30)

Buta terhadap al-Quran akan menyebabkan umat Islam menghadapi penyakit umat terdahulu iaitu mereka tidak membaca kitab-kitab Taurat dan Injil kecuali untuk angan-angan belaka. 

Firman Allah, maksudnya: "Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui al-Kitab (taurat), kecuali angan-angan belaka." 
(Al-Baqarah: Ayat 78)

Buta al-Quran bukan sekadar tidak tahu membaca sepertimana dalam pengertian umum tetapi maksud buta al-Quran yang kita alami kini ialah kehilangan ilmu pengetahuan yang berteraskan al-Quran dan al-Sunnah. Kita tidak memanfaatkan segala dimensi-dimensi ilmu yang ada pada al-Quran seperti ilmu kemasyarakatan, ilmu jiwa dan ilmu akhlak. Oleh itu, kaum Muslimin perlu menjadikan al-Quran sebagai sumber rujukan ilmu pengetahuan yang tepat tentang pandangannya terhadap insan, kehidupan dan kewujudan manusia serta pandangannya tentang fitrah kemanusiaan dan sosial. 

Pengabaian perkara ini yang mengakibatkan gersangnya pemikiran dan perspektif al-Quran dalam realiti kehidupan kita. Lantas al-Quran yang menjadi sumber kekuatan umat bertukar menjadi beku dan diawet dalam lipatan sejarah. Hal ini disebabkan world view yang terbina dalam pemikiran kita semenjak kecil bahawa al-Quran tidak perlu ditampilkan kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu seperti menghadapi saat-saat kematian, menziarahi kubur atau dibaca untuk menghiburkan orang-orang yang sakit tenat, selaku bacaan yang menjadi permainan mulut. Akibatnya umat Islam tidak mampu lagi berurusan dengan al-Quran secara terbaik. 

Sebenarnya objektif al-Quran adalah untuk membentuk manusia. Oleh yang demikian, tuntutan al-Quran ialah menyuruh manusia berfikir, memahami, membuat penelitian dan percubaan serta mengetahui motif-motif dan sebab musabab sesuatu. Skopnya perlu diperluaskan hingga untuk mengetahui masa hadapan. 

Firman Allah, maksudnya: "Dan sesungguhnya kamu mengetahui kebenaran berita al-Quran setelah beberapa waktu." 
(Sad: Ayat 38)



Tuntutan al-Quran yang paling penting kini ialah melihat 2kesyumulan dan kesepaduan perspektif al-Quran terhadap hubungan dengan Allah, sesama manusia dan alam.Sementara itu, tafsir bertema merupakan aliran tafsiran baru yang dapat menonjolkan matlamat Islam. Muhammad al-Ghazali berpendapat tafsir bertema ialah menggarap sesuatu surah dengan seutuhnya, melakar gambaran menyeluruh dan menghubungkaitkan kesepaduan serta kaitan bahawa awalnya ialah pengantar dan penghujungnya ialah kebenaran kepada pengantar. Ia mengumpul dan menyusun kesemua ayat-ayat yang berkaitan dengan sesuatu tema untuk melihat bagaimana al-Quran menangani konsep secara padu dan utuh. Tafsir bertema dapat mengemukakan alternatif dan menonjolkan matlamat dan 3maqasid al-Quran. Ia juga mampu mengemukakan 4manhaj dakwah dan5islah menurut perspektif al-Quran yang sebenar. Di samping itu, metode tafsir yang paling ideal untuk membimbing manusia mengenal pelbagai petunjuk yang terkandung dalam al-Quran.

Sepatutnya umat Islam bukan sahaja mengelokkan bacaan semata-mata tetapi juga hendaklah 6tadabbur seperti yang dilakukan oleh para sahabat. Mereka membaca, meneliti, memahami dan melaksanakan suruhan al-Quran dan kemudian baru berpindah ke ayat lain. Apabila para sahabat mendengar al-Quran terkesan penghayatannya dalam jiwa mereka. Pernah Saidina Umar bin Abdul Aziz mengulangi ayat22-24 surah al-Saffat sepanjang malam sehingga waktu subuh sambil menangis kerana terkenang jikalau dia termasuk antara orang yang dihumban ke dalam api neraka akibat melakukan kezaliman di atas dunia ini. 

Syeikh Muhammad al-Ghazali mengulas mengenai sikap umat Islam terhadap al-Quran dengan katanya "Sikap dan pendirian kaum Muslimin terhadap al-Quran yang telah memberi penghormatan kepada mereka sungguh menyedihkan. Semenjak beberapa kurun, dakwah al-Quran telah dibekukan, risalah Islam laksana sungai yang telah kering airnya atau piala yang disumbat mulutnya."  Oleh yang demikian, proses interaksi dengan al-Quran yang terbaik ialah memahami dan menyelami makna serta maksud. Perkara ini amat penting supaya menghasilkan 7izzah yang selama ini telah hilang di tangan umat Islam. 
Rashid Rida pernah menyebutkan bahawa kebangkitan umat bertitik tolak daripada prinsip al-Quran yang akan mengerah dan mengarah seluruh kekuatan akal dan jasad untuk kesempurnaan jiwanya dan kesejahteraan bangsanya. Revolusi itu akan membebaskan akal insani dan kemanusiaan daripada perhambaan yang dicipta oleh orang-orang yang menganggap dirinya memiliki sifat 8rububiyyah. Revolusi kemanusiaan semacam itu hanya mungkin terjadi melalui prinsip al-Quran. Al-Quran merupakan lambang dan suntikan kepada revolusi dalaman untuk membina umat yang mulia.

Al-Quran diturunkan untuk diamalkan, bukan diturunkan untuk menghias dinding-dinding rumah, bukan diturunkan untuk dibaca kepada orang-orang mati tetapi diturunkan untuk menjadi panduan bagi orang yang hidup. Al-Quran diturunkan untuk mengeluarkan manusia daripada kegelapan kepada cahaya Ilahi. Manusia berkata, "Kami hendak mengambil berkat dari al-Quran." Apakah itu berkat? Sedangkan kita tidak pernah mengikuti perintah al-Quran. Berkat itu terletak pada orang-orang yang mengikuti kitab hidayah ini. 



Firman Allah, maksudnya: "Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan barakah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran." 
(Sad: Ayat 29)

Malangnya, kita tidak beramal dengan al-Quran sepenuhnya. Umat surah al-Syura tetapi tidak beramal dengannya, umat surah al-Hadid (besi) tetapi tidak menguasai teknologi bidang tersebut, umat surah al-Alaq yang dimulakan dengan Iqra' tetapi tidak membaca malahan masih ramai lagi yang jahil tentang agama Islam. Di manakah kedudukan umat Islam sekarang dengan al-Quran? Oleh itu, perlulah kita bermuhasabah interaksi kita dengan al-Quran dengan menghayati falsafah penurunannya, konsep dan metode penafsiran terkini sebagai panduan dalam kehidupan manusia.